
Monumen Nasional
Tidak terasa…sudah 10 bulan aku menjejakkan kakiku dan mengais rezeki di kota ini. Dalam 10 bulan itu, kurasakan hal-hal yang mungkin tidak pernah kurasakan dan kulihat sebelumnya dalam perjalanan hidupku selama 28 tahun ini.
Selama 4 bulan terkahir ini, akupun selalu menaiki Kopaja 19 untuk menuju kantorku (Sudirman) dari kantor istriku (Blok M) ataupun sebaliknya.
1. Kabel Listrik Yang Bersliweran

Kabel Listrik
Disaat ibukota-ibukota di negara tetangga berbenah untuk menanam kabel-kabel infrastruktur (listrik, telp, fiber optic, dll) didalam tanah, kota ini malah terkesan membiarkan kabel-kabel itu bersliweran dipinggir jalan. Tidak jarang bahkan kabel-kabel itu bertumpuk-tumpuk dengan instalasi penyambungan yang kabel baru.
Terkadang aku berfikir, apakah ada orang yang berfikir penyambungan-penyambungan itu akan menyebabkan arus pendek?
2. Corat-Coret

Coret-coretan di jembatan
Kota tua ini dipenuhi dengan corat-coret Pilox berwarna-warni. Halte bis, tembok rumah, hentian Busway, jembatan, pagar, dll. Hampir setiap sudut kota tercoret. Apakah ada salah mereka sehingga kita harus mencoret-coretnya dengan coretan-coretan yang tidak penting?
Terkadang aku berfikir, serendah itukah moral bangsa kita sehingga tidak bisa menghargai barang-barang fasilitas umum/pribadi?
3. Lampu Penerangan Umum

Keadaaan Kota Yang Gelap Gulita
Ketika aku kecil, orang selalu menceritakan kepadaku kalau Jakarta itu sangat indah dimalam hari. Setelah aku menetap disini, aku pun mempercaya hal itu. Karena memang lampu-lampu di Jakarta sangat indah untuk kawasan Thamrin, Silang Monas, Sudirman, Gatot Subroto, Kuningan dan Kemang.
Daerah-daerah itu hanya sebagian kecil dari luasnya kota Jakarta. Sedangkan daerah yang laen gelap. Bahkan bagiku, kawasan yang laen adalah gulita. Suasana yang temaram akan membuat para pejalan kaki menjadi kuatir. Ini juga akan menambah keleluasaan para pencopet untuk melaksanakan operasinya.
Terkadang aku berfikir, semiskin inikah negeri ini sehingga membuat kota ini menjadi gulita?
4. Jalan

Jalan Banjir di Sudirman
Sudirman adalah jalan protokol. Hal ini sangat kuyakini karena jalan ini benar-benar besar. 3 jalur dijalur cepat dan 2 jalur dijalur lambat membuat jalan ini sangat lebar. Bahkan mungkin jalan ini adalah jalan yang paling lebar di jakarta.
Tapi, lebar itu tidak didukung oleh kualitas aspal yang baik. Lubang dimana-mana. Jalan pun banyak yang keriting dan tempelan yang tidak sempurna disana sini. Belum lagi ditambah dengan selokan yang nyaris tidak bekerja. Maka jalan inipun tergenang air dikala hujan mengguyur. Kalau Sudirman saja begini, bagaimana jalan yang lain.
Terkadang aku berfikir, sekorup inikah para pemimpin dinegeri ini sehingga kita tidak punya uang untuk memperbaiki jalan, membangun jalan yang bagus ataupun membuat kanal-kanal yang mampu menampung air disaat hujan tiba?
5. Gerobak/Kios-kios Kecil

Gerobak Kecil Ditepi Jalan
Kemang, Permata Hijau, Menteng, Pondok Indah adalah kawasan-kawasan elit di kota ini. Kawasan ini adalah kawasan kaum Borjua yang notabene punya rumah yang indah nan megah. Tapi tidak jarang,didepan pagar rumah mereka ada sepetak gerobak/kios kecil yang menjual rokok atau air minum ataupun makanan.
Ditambah lagi, ruas-ruas jalan pun diambil untuk tempat menjajakan dagangan. Padahal jalan tersebut sudah kecil. Maka hasilnya…jalan tersebut pun lebih menyempit. Akhirnya seperti yang sudah ditebak…kemacetan pun terjadi.
Terkadang aku befikir, sebenarnya siapa yang mengizinkan mereka untuk berjualan ditempat-tempat yang bahkan mengambil hak orang?
6. Sticker/Poster Iklan

Halte Bis
Hampir disemua sudut tertempel sticker-sticker iklan. Mulai dari iklan perusahaan-perusahaan besar sampai ke iklan yang personal (rumah kontrakan, kost-kostan, Dana Tunai segera, dll).
Terkadang aku berfikir, tidak adakah tempat yang khusus untuk menempel sticker-sticker ini?
7. Asap-Asap Kendaraan Umum

Asap Kendaraan Bis
Semakin hari kulihat pohon-pohon semakin hitam. Semakin hitam dahannya…semakin hitam daunnya. Pejalan kaki harus selalu menutup hidup untuk menyaring kotornya asap-asap yang dikeluarkan oleh kendaraan umum.
Ujian emisi yag dijanjikan oleh pemimpin kota pun kelihatannya tidak ada hasil. Atau jangan-jangan uji emisi itu memang tidak pernah ada sama sekali.
Terkadang aku berfikir, tidak adakah pemimpin yang peduli untuk membenahi masalah kualitas udara dikota ini?
Kota ini benar-benar sudah terlalu tua untuk menampung semua ini. Kota ini sudah terlalu sempit. Kota ini sudah terlalu padat. Kota ini perlu peremajaan kembali…
Entah siapa…Entah kapan…