Bapak Rumah Tangga (BRT)

Kuda"an

Kuda"an

Awal July…

Hampir sebulan aku tidak bertemu dengan istri dan anakku. Pekerjaanku yang selalu berhubungan dengan project, membuat pertemuan dengan keluargaku kadang-kadang tidak dapat prediksi. Apalagi kalau project tersebut mau mendekati Go Live.

Tapi, diawal project juga akan kebalikannya. Hari kerja biasapun terasa sangat santai. Ditambah lagi kalau project tersebut berlokasi di Jakarta. Maka akan sangat santai dan banyak waktu untuk keluarga.

Akupun pulang ke Jakarta dan mengambil inisiatif untuk cuti 2 minggu. Ya, 2 minggu yang ingin aku habiskan hanya bersama istri dan anakku. 2 minggu untuk melupakan segala kelelahan dan keletihan yang aku rasanya sejak sebulan terakhir.

Minggu pertama aku habiskan untuk mengantar dan menunggui anakku yang kebetulan adalah minggu pertama dia di Kelompok Bermain (Play Group). Aku mencoba membangun kedekatan yang erat antara bapak dan anak. Setelah sekolah, biasanya Rais pun aku bawa ikut mencari keperluan untuk rumah. Mencari kunci (ada pintu yang mesti diganti kunci nya), survey harga polycarbonat, ke Carrefour, cari tanaman, dll. Rais pun ikut dengan senang hati.

Pulang dari sana, biasanya Rais akan mulai mengantuk. Tapi Rais aku biasakan untuk makan dulu. Aku bertugas, menyuapkan, main sebentar dan menemaninya tidur. Tidak jarang, akupun ikut tertidur. Hehe…

Setelah Rais tidur, biasanya aku zuhur dan menyempatkan diri untuk melihat pergerakan saham sebentar. Siapa tau ada yang bisa dibeli atau dijual, maka order akan dibuat pada saat itu (gaya banget yak. padahal mainnya masih kecil).

Bangun Rais, aku pun bersiap untuk memandikannya dan siap-siap untuk menjemput bundanya dikantor.

Di minggu ke 2, pengalaman bapak dan anak ini lebih seru lagi.

Kami ikut bunda Rais yang bertugas ke Semarang. Secara bundanya yang bertugas, jadinya kami berdua hanya mempunyai misi untuk menemani. Menemani dan memastikan keberadaan kami akan membuat bundanya Rais lebih semangat untuk bekerja.

Perjalanan dari Jakarta pun dimulai pada hari Minggu pagi sekitar 7.00 (17 July 2011). Sekitar jam 6.00 kami sudah sampai di Bandara. Keadaan di Bandara saat itu benar-benar huru hara. Kapasitas Bandara yang mestinya sudah diperbesar beberapa tahun lalu dan ditambah dengan volume penumpang yang membludak saat itu membuat bandara lebih terkesan menjadi pasar daripada sebuah airport. Hawa didalamnya panas. Penumpang dengan barang-barang yang berkardus-kardus besar dengan menggunakan jasa Porter juga ikut berkontribusi pada suasana yang sangat jauh dari kenyamanan. Porter pun keluar masuk lalu lalang dengan hanya mementingkan barang yang mereka bawa. Seolah-olah merekalah penguasa Bandara.

Singkat cerita, alhamdulillah kami sampai dengan selamat di Semarang. Oya, Di penerbangan itu, untuk pertama kalinya Rais berani duduk sendiri di kursinya (biasanya dipangku). Rais selalu berkata “Ngak takut lagi Ba” sambil tersenyum polos ciri khasnya.

Kami langsung antri untuk ambil bagasi. Seperti tipikal bandara di Indonesia, penumpang akan dibiarkan selalu menunggu untuk mengambil bagasi. Tapi kali ini, sampai barangnya habis bagasi kami tidak ada. Beberapa penumpang yang lain pun mengalami masalah yang sama. Pihak maskapai penerbangan pun mencatat manual nama-nama penumpang yang bagasinya belum sampai. Selain nama, no telp dan alamat tempat tinggal para penumpang tersebut di Semarang juga dicatat. Tapi, karena ini semua dilakukan secara manual, waktu yang diperlukan juga lama. Belum lagi para petugasnya harus melayani argumentasi dari para penumpang yang bertanya berkali-kali kenapa bagasi mereka masih tinggal di Jakarta.

Bukankah mereka sudah punya system nama, luggage tag dan no HP dari system mereka ya. Sehingga yang diperlukan hanyalah mengedit no HP (jika diperlukan) dan mengetik alamat domisili si penumpang. Tapi ya sudahlah pikirku. Ikuti saja prosedurnya dan berfikir positif barang tersebut akan kembali.

Kami menginap di sebuah hotel yang berlokasi di Jalan Pemuda dan sangat dekat sekali dengan Paragon Mall.

18 – 20 July 2011.

Tiga (3) hari yang penuh keceriaan. Dihabiskan bersama Rais. Tanpa Bunda (bertugas dari jam 8 – 5 sore) dan Mba yang bisa membantu disaat diperlukan. Mandi, pis, pup, main ke ruangan mainan, jalan keluar disaat Rais sudah bosan adalah rutinitas selama itu. Ditambah lagi Rais yang baru mulai mengenal komputer, selalu keranjiangan dengan aplikasi yang namanya Paint.

Semakin tersadar saya kalau menjaga anak batita itu tidak mudah. Butuh kesabaran dan pengertian yang tiada henti. Ditambah lagi Rais adalah seorang batita dengan pribadi “teguh pendirian”. Jika ingin sesuatu, akan menantang bagi kita untuk merubahnya atau membujuknya agar mau menerima alternatif.

Sungguh tidak bijaksana rasanya kalau kita meremehkan mereka. Sungguh tidak pantas kalau kita mengecilkan mereka.

Mereka adalah orang “kecil” yang berperan dan mempunyai tanggung jawab “besar” dalam kehidupan kita.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.